Wednesday, November 08, 2006

ZAHRAKU















Zahraku!
Inilah nisan kenangan untukmu, wahai istri budiman
Kurangkai bunga ini di tempat pasenggerahan sepi, hendak kukirimkan
Ke alamat jauh, kepada engkau yang sudah pulang
Orang mengatakan bahwa aku adalah penyair dan pengarang
Tapi, kali ini tanganku kaku, lidahku kelu
Aku kekurangan kata untuk berbicara dengan engkau
Kata dan aksara dunia tidak cukup untuk menafsirkan suara hatiku
Kalimat manusia terlalu miskin untuk menerjemahkan perasaan dan getaran nuraniku
Tapi aku tahu, bahwa engkau tahu siapa aku
Engkau lihatlah dari alam gaib, betapa perasaanku
Dikala menggubah nisan kenangan ini untukmu!

Zahraku!
Aku pernah kematian ayah, ditinggalkan bunda
Aku pernah kehilangan anak sibiran tulang, aku pernah berpisah dengan semata Bunda Kandung
Kepergian mereka kuratapi, meninggalkan luka dan duka dalam hati
Akan tetapi luka dan duka tidaklah lama, segera ia sembuh kembali
Walaupun bekasnya masih tertulis dalam kulit hidupku
Wahai istri budiman, wanita utama-kewafatanmu,
Telah meniggalkan luka parah dalam jiwaku
Tambah lama luka itu tambah menjadi, tak sembuh lagi
Bagiku kematian ayah, bunda, anak dan sanak kandung,
Tidaklah separah kematian Istri budiman seperti engkau

Zahraku!
Bercucuran airmataku sewaktu membuat nisan ini
Gemetar seluruh persendian tubuhku, denyut jantungku bergerak cepat,
Perasaanku risau, hatiku penuh haru,
Aku terkenang masa lalu, jalan panjang yang kita lalaui berdua
Puluhan tahun kita bercampur dan bergaul
Memadu hati membina hidup
Bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada emas dan perak
Engkau menjadi saksinya
Bahwa gengsi hidup tidaklah ditentukan oleh
Bangsawan, darah dan keturunan, engkau menjadi saksinya
Bahwa wanita yang “tidak terpelajar” dapat pula menegakkan
Rumah tangga terhormat, engkau pula yang menjadi saksinya

Zahraku!
Puluhan tahun kita berlayar menempuh samudra hayat
Biduk upih mengayuh bilah, riak keras anginpun kencang
Ditengah amukan ombak dan hempasan badai,
Kita berpirau melawan arus
Tempo-tempo biduk kita terdampar disuatu pulau yang tidak dikenal
Kadang-kadang biduk kita terhempas ke tepi pantai sunyi tiada penghuni
Puluhan tahun kita berjalan kaki, mendaki bukit yang tinggi
Menuruni lurah yang penuh duri
Jalan kita lalui bukanlah jalanyang rata, lurus dan lempang
Tapi banyak kelok dan likunya, penuh kerikil dan batu tajam
Penuh semak dan belukar, padat dengan sengsara dan derita
Kita mengaji dari alif, menghitung dari angka satu
Akhirnya tiba juga kita ketitik yang agak terang,
Berkat ketabahan hatimu menempuh kabut tebal dan warna gelap
Kesudahan sampai juga kita ke tonggak sejarah
Karena ketenangan jiwamu menghadapi kemelut hidup

Zahraku!
Engkau daki bukit yang tinggi, engkau turuni lurah yang dalam
Engkau pikul beban hidup, walau bagaimanapun beratnya
Sehingga hampir bahumu retak dan remuk
Tiada keluhan dan sesalan
Tak pernah engkau meminta tanggung beban yang berat yang singgulung batu
Haram tak nampak dalam sejarahmu sikap yang mengecewakan suamimu
Yang kulihat hanyalah kesabaran, ketenangan dan ketabahan
Tempo-tempo dapur kita tidak berasap, engkau tetap tersenyum
Dikala biduk dihempaskan badai, engkau tetap tenang tiada gelisah
Engkau tahankan segala derita dengan sikap kebudian dan jiwa keibuan
Engkau atasi segala rintangan dengan segala keteguhan
Disaat udara tenang dan dikala cuaca cerah
Dikala rembulan datang dengan cahaya lembut,
Engkau sanggup pula menguasai diri
Dan tidak pernah lupa”Purwadaksina”, tempat asalmu

Zahraku!
Engkau adalah lambang kesetiaan seorang istri kepada suami
Engkau adalah teladan dari ibu rumah tangga yang baik
Dalam masa selarut selama ini engkau gelimangi aku dengan kasih sayangmu
Engkau cintai suamimu melebihi dari cintamu kepada dirimu sendiri
Engkau pampangkan badanmu untuk menjaga keselamatan diriku
Engkau angkat suamimu ketempat yang baik, terhormat dan disegani
Engkau telah senandung dengan segala suka dan dukamu
Keringat dan airmatamu telah menyirami taman hidupmu
Sampai aku menemui bentukku sendiri
Segala pengalaman dan penderitaan telah membimbing kita
Menempuh jalan hidup yang diguratkan takdir buat kita
Sungai airmata dan tetesan darah penderitaan sepanjang jalan kita lalui,
Itulah siraman bunga hidup kita

Zahraku!
Baru sampai kita sampai ketitik terang, napasmu habis
Jantungmu tidak berdenyut lagi, hidupmu berhenti
Ditengah perjalanan yang masih jauh ranahnya, engkau pergi,
Dan kau tinggalkan aku dipersimpangan jalan yang sepi
Ditempat yang senyap itu, engkau pamitan minta lalu
Engkau menghilang kedalam gelap, dan aku engkau tinggalkan dalam kesunyian,
Lara dalam derita bathin
Sejak itu sempit dunia ini bagiku, dan awan keliling menjadi gelap,
Awan tebal melukiskan kata sangsi dalam hati
Kepergianmu menyebabkan patah sayap hidupku sebelah,
Sayap yang paling vital, penuh isi dan arti
Dan terbang buru dara ini dengan sayap yang masih tinggal,
Dituntun oleh gerakan angin taufan tanpa kompas, tanpa pedoman

Zahraku!
Setelah kau tak ada, baru aku tahu akan nilai dirimu
Setelah kau tak ada, baru aku tahu siapa sebenarnya engkau
Setelah kau tak ada, baru aku sadar akan peranan
Yang kau mainkan diatas panggung sejarah hidupku
Setelah kau tak ada, baru aku tahu harga wanita pelipur lara
Setelah engkau pergi dunia menjadi begitu sunyi bagiku
Rumah gadang menjadi lengang karena “bundo kandung” tak ada lagi
Demikian aku memandang kepergian engkau meninggalkan kami semuanya
Semoga engkau mendapat magfirah dan jannah Tuhan
Yang pernah menjanjikan upah balasan kepada seluruh hamba-Nya
Yang memenuhkan hidupnya dalam jalan kebajikan dan kebaktian


Al-Ustazd Assayid Iskandar Ibnu Karamy
Seorang muballig Kenamaan

Tuesday, November 07, 2006

TRAGEDI PERADABAN


malam ini..
Kepala teman-temanku
Sudah lama tersungkur diatas meja
Sedangkan Kepalaku sendiri
Sudah lama menyentuh bumi


Makassar, 24 Agustus 1995
Djido's Wasiah Alam Nyinga Laha

OPSPEK


Opspek adalah warisan sejarah penindasan dan pembalasan dendam
Opspek adalah warisan semangat kolonial yang dilestarikan
Opspek adalah simbol perbudakan dan penjajahan
Opspek adalah warisan sejarah kesombongan dan keangkuhan

Yunior menjadi.....
Manusia merdeka dihinakan
Senior menjadi....
Manusia merdeka ditiranikan

Disini....
Fir,aun bangkit kembali dengan kepongahannya
Di tanah ini.....
Kemenangan nafsu angkara kabil bangkit kembali

Disini.....
Namrudz kembali menepuk dadanya
Qarun mempertontonkan kemewahannya
Bal'am mempertuhankan nafsunya
Iblis dan syetan mencari teman-temannya

Manusia merdeka dibudakkan
Dimana nurani kemanusiaan kita?

Ingat.....
Ketertindasan yang berlebihan....
Kepongahan merajalela...
Kelemahan.....
Akan melahirkan pembrontakan
Kekotoran sejarah akan tercuci dengan darah penguasa......


Makassar, 11 September 1997

Djido's Wasiah Alam Nyinga Laha

Tuesday, June 06, 2006

OMBAK GILA

Subuh di teluk ini
Ombak menunjukkan marah gilanya
Di dinding tembok penahan
Lantaran kreatifitas harga dirinya

Di pelataran penjemputan ini
Ombak melompat dalam riang gilanya
Lantaran gairah pantai memahami kegilaannya

Bisikan dermaga diatas ombak yang gila
Sitidak waras melompat lenggak lenggok
Kain kafan ditangan terlambaikan angin
Sadar gilanya berseru
Wahai ombak yang menggila
Kembalikan….kembalikan….. bukan permata
Tapi sebutir pasir yang kau renggut
Pasir disana sudah terbalut dendam, dengki dan nista
Tempat mereka membayangkan kepongayahannya

Kembalikan sebutir pasir yang kau rebut
Dunia menjadi gulita karena bulan merajuk
Bintang tidak mau lagi meminjamkan pelitanya
Mataharai gusar dengan bakarnya

Aku hanya menuntut……………..
Kembalikan sebutir pasir yang kau mangsa
Kembalikan sebutir pasir keasalnya
Pasir disana sudah terbalut dendam dengki, dan nista

Kembalikan sebutir pasir yang kau rebut
Agar hujan menyiram kembali hati dunia
Agar angin mendetakkan kembali jantung dunia
Agar kau tidak lagi dimusuhi lautanmu
Agar bunga merekah kembali rembulan

Sang tidak waras melompat lenggak-lenggok
Dengan kain kafan ditangan
Sambil tertawa menyindir ia berseru
Sahabatku, sahabatku telah tercerabut
Sahabatku, sahabatku telah tiada
Sahabatku, sahabatku telah sekarat
Sahabatku, sahabatku telah keparat
Karena jiwanya dirasuki rohy setan gila
Karena hatinya dicuri anjing gila

Mandar, 06 Juni 2005

Djido’s Wasiah Alam Nyinga Laha